Oleh: dr Herry Hartono

Kisah ini bermula dari tawaran PERDHAKI (Persatuan Dharma Karya Indonesia) akan kebutuhan “relawan” dokter untuk membantu korban gempa bumi di Pulau Nias. Saya mendaftarkan diri dan menyanggupi untuk berada di Nias selama 1 bulan. Akhirnya saya ditelepon oleh Bu Irene sebagai koordinator PERDHAKI dalam bidang pencarian tenaga medis untuk berangkat ke Nias tgl 18 Mei – 15 Juni 2005.

Mungkin kalian bertanya2 kenapa saya menyebut kata relawan dalam tanda kutip. Menurut Romo Rantinus sebagai koordinator seluruh relawan Nias dari berbagai LSM, “Relawan itu adalah orang yang dengan rela tulus ikhlas mau membantu sesamanya yang menjadi korban bencana alam, tanpa dibayar.”  Nah, dua kata terakhir itulah yang membedakan antara relawan (sejati) dan “relawan”. Oleh karena itu saya tidak berani menyebut diri sebagai relawan.

Kisah ini saya bagi menjadi 3 bagian: keberangkatan, kegiatan pelayanan medis, kepulangan.

1. Keberangkatan

Satu hari sebelum mulai keberangkatan ke Nias, kami tim medis yang dikirim dikumpulkan untuk briefing terlebih dahulu. Ternyata tim yang berangkat terdiri dari 3 dokter, yaitu saya, dr Riana dari Sampit, dan dr Sinta dari Banjarmasin.

Keesokan harinya tgl 18 Mei kami berangkat ke Medan terlebih dahulu dengan pesawat Batavia Airlines. Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam. Setibanya di Bandara Polonia Medan kami dijemput oleh staf PERMECO, yaitu dr Happy dan Elisa. Semula kami dijadwalkan langsung berangkat ke Sibolga dengan travel pukul 10.00, namun kami baru tiba di Bandara Polonia Medan pukul 10 lebih. Sehingga kami dijadwalkan naik travel menuju ke Sibolga pada pukul 20.00. Sembari menunggu, kami diajak jalan2 seputar RS dan Sun Plaza.

Malam hari kami berangkat ke Sibolga dengan menggunakan mobil L-300 non AC. Malam itu pula langit terlihat akan hujan, sehingga terasa gerah. Alhasil dalam 3 jam perjalanan pertama, kami mandi sauna. Bahkan penumpang lain ada yang sampai buka baju. Untung kemudian turun hujan, acara sauna pun berakhir. Karena berangkat malam, kami tidak bisa menikmati pemandangan selama di jalan yang konon menyejukkan hati.

Setelah 10 jam perjalanan, akhirnya tgl 19 Mei pk 06.00 kami tiba di Wisma Christophorus, Sibolga. Kami diterima oleh Romo Ferry. Setelah mandi dan sarapan pagi, kami beristirahat sejenak. Namun sekitar pukul 9 pagi kami dikejutkan dengan adanya gempa yg cukup keras. Untung tidak menimbulkan kerusakan maupun korban.

Kami berangkat ke Nias dengan menggunakan kapal, yang hanya berangkat pada malam hari pk. 20.00. Oleh karena itu, kami (saya dan dr Sinta) sempat  keliling kota Sibolga dengan becak. Kami mengunjungi pelabuhan dan objek wisata Seratus Tangga. Lumayan berekreasi sejenak sebelum mulai berkarya.

Malam hari kami berangkat dengan menggunakan kapal barang Nias Indah. Beruntung kami mendapatkan kamar yang berisi 4 tempat tidur, namun tanpa AC. Kami bertiga dengan seorang relawan Caritas, Kojek namanya. Kojek, dr Riana dan dr Sinta keluar ke dek kapal untuk menikmati angin laut. Terpaksa saya mendiami kamar itu seorang diri untuk menjaga barang2 bawaan sambil mandi keringat karena puuanasnya. Tak ada angin yg masuk melalui jendela. Ditambah lagi kapal ditunda keberangkatannya hingga 1 jam karena masih mengangkut barang2 dari truk. Mandi sauna dah… Nasib…  Setelah kapal berangkat, baru angin laut terasa masuk melalui jendela. Thanks God… Oh ya, beruntung cuaca malam itu cerah, jadi tidak ada badai di lautan. Once again, thanks to God!!!

Keesokan harinya tgl 20 Mei sekitar pkl 05.00 kami tiba di pelabuhan kota Gunung Sitoli, Nias. Kami dijemput dan diantar menuju ke Susteran SCMM St. Yosef. Kami diterima oleh Suster Margareta, staf PERDHAKI sekaligus koordinator “relawan” PERDHAKI di Nias. Setelah istrirahat sejenak, kami berkumpul untuk mendengarkan pengarahan dari Suster Margareta. Ternyata kami dibagi 2: dr Sinta ditugaskan untuk melayani pasien di Balai Pengobatan di Teluk Dalam (Nias Selatan), sedangkan saya dan dr Riana tetap di Gunung Sitoli. Kami berdua bergabung dengan relawan PERDHAKI lainnya yang sudah beberapa hari di sana sebelumnya. Mereka adalah dr Wimbo, dr Yusup, perawat Sutikno dan bidan Putu. Sebenarnya dr Wimbo dan dr Yusup merupakan relawan dari YEL (Yayasan Eko Life) yang dalam lapangan berada di bawah koordinasi PERDHAKI.

2. Kegiatan Pelayanan Medis

Kami berenam yang tergabung dalam Posko Gunung Sitoli menjalankan 3 program kegiatan, yaitu :

  • Posko Kesehatan Gunung Sitoli yang berlokasi di Klinik Tabita
  • Jaga UGD RSU Gunung Sitoli
  • Pelayanan medis gratis bagi masyarakat pedesaan di Nias.

a. Posko Kesehatan Gunung Sitoli

Posko yang bertempat di Klinik Tabita ini sudah ada sejak awal bulan April, beberapa hari setelah gempa bumi 28 Maret terjadi. Waktu pelayanan dibagi 2, yaitu hari Senin sampai dengan Sabtu pk 08.00 – 12.00 dan pk 15.00 – 18.00. Tentunya waktu ini bersifat fleksibel; jika ada pasien yang gawat, tetap kami layani. Posko ini melayani pasien rawat jalan dan rawat inap. Hal ini dikarenakan posko ini memiliki ruangan yang memadai, antara lain ruang OK, ruang bersalin, ruang pemeriksaan untuk klinik umum, dan laboratorium. Selain itu, peralatan dan obat-obatan cukup lengkap dan memadai.

Pada awal mulanya, posko ini memberikan pelayanan gratis. Namun karena cukup banyaknya pasien yang sehat namun datang berobat, akhirnya diputuskan untuk ditarik bayaran secara sukarela. Sebenarnya hal ini terkesan kurang manusiawi mengingat pasien2 itu merupakan korban gempa bumi. Namun di lain pihak, hal ini cukup efektif untuk mengurangi orang2 yang hanya mencari obat gratis saja.

Posko ini berlangsung hanya sampai akhir bulan Mei saja, karena pihak pengelola Klinik Tabita ingin kembali membuka kliniknya yang telah vacuum selama 2 bulan. Dengan terpaksa, PERDHAKI menutup posko ini walaupun menyadari masih cukup banyak masyarakat yang perlu bantuan pelayanan medis. Terlebih lagi Posko ini merupakan “tempat rujukan” posko2 di daerah lain. Namun apa boleh buat, kenyataan berbicara lain.

Selama saya melakukan pelayanan medis di posko ini, rata2 jumlah pasien per hari sekitar 100 orang. Kasus penyakit yang ditemui kebanyakan merupakan kasus umum, seperti ISPA, dermatitis, penyakit muskuloskeletal, dll. Penyakit2 yang muncul ini mungkin merupakan dampak tidak langsung dari gempa bumi. Kebanyakan dari mereka tinggal di tenda, dimana persediaan air terbatas, lingkungan kurang bersih. Penyakit malaria yang kabarnya cukup banyak, ternyata tidak terbukti. Hanya sedikit kasus malaria yang kami temukan. Ada beberapa kasus unik yang saya temui di posko ini, antara lain: elephantiasis, demam berdarah, lipoma, appendicitis, kejang demam.

Hanya beberapa pasien yang merupakan kasus emergency akibat gempa, misalnya:  post amputasi plus DM, parestesi kedua kaki akibat punggung tertimpa tembok, combustio gr II.

b. Jaga UGD RSU Gunung Sitoli

RSU Gunung Sitoli meminta bantuan kepada PERDHAKI guna membantu UGD pada malam hari. Alasan permintaan bantuan tersebut tidak jelas, ada yg mengatakan dokter2 di sana takut terpisah dari keluarga pada malam hari jika sewaktu2 ada gempa lagi. Karena tim dokter kami ada 4 orang, kami menyanggupinya dengan bergantian jaga. Waktu jaga mulai pukul 22.00 – 07.00. Selama saya jaga, hanya ada 4 pasien.

Kami para dokter mengeluhkan manajemen RSU yang kacau, SDM perawat yg ada tidak profesional. Selain itu peralatan laboratorium yang rusak, tidak segera diperbaiki. Di tambah lagi obat2an yang ada di UGD merupakan obat2an sumbangan saja yang notabene tidak lengkap, sedangkan obat2an yang mereka miliki disimpan di apotek sendiri saja yang dikunci pada malam hari. Alhasil, kami terpaksa memakai obat seadanya. Malah kadang membawa obat sendiri dari Posko Tabita untuk jaga2. Kami pernah menyampaikan masukan guna membenahi masalah tersebut, namun tampaknya tidak mendapat tanggapan. Mudah2an seiring dengan pulihnya kota Gunung Sitoli, semua hal tersebut segera diperbaiki.

Kegiatan jaga ini hanya berlangsung sejak tgl 19 – 27 Mei, karena kami mulai berkonsentrasi pelayanan ke pedesaan. Selain itu, kami tidak ingin “memanjakan” dokter2 di RSU.

c. Pelayanan Medis di Pedesaan

Kami mulai pelayanan ke daerah pedesaan atas permintaan dan informasi warga setempat bahwa di daerah2 tertentu tidak terjamah oleh baik unit kesehatan lokal maupun bantuan kesehatan dari luar. Oleh karena itu, kami membagi diri secara bergantian dalam melaksanakan pelayanan medis di pedesaan. Setelah dua kali melakukan pelayanan di pedesaan, kami mulai mencari informasi daerah2 lain yang belum terjamah dan membutuhkan pelayanan kesehatan. Dengan bantuan Romo paroki tiap-tiap wilayah dan warga setempat, kami mendapatkan informasi dan mulai menyusun jadwal pelayanan.

Sejak awal bulan Juni 2005, Tim Posko Gunung Sitoli PERDHAKI mulai memfokuskan diri ke dalam bentuk pelayanan medis ini. Kegiatan Posko Kesehatan di Klinik Tabita dan Jaga UGD dihentikan. Namun kami tetap melayani pasien yg datang, entah itu dari masyarakat sekitar atau relawan atau rohaniawan lain.

Adapun lokasi desa yang kami kunjungi sebagai berikut :

No. Lokasi Waktu Tempuh Tanggal Anggota Tim Medis Jumlah Pasien
1. Dusun Afolahia,

Desa Duria,

Kec. Lolofitumoi

3 jam 20-21

Mei ‘05

Dr. Yusup, sr. Damian, sr. Anna, Fr. Nathan*), Yanu 216
23-24

Mei ‘05

Dr. Herry, dr. Wimbo, sr. Damian, Rm. Philip*), Sutikno, Yanu, Peter 267
2. Desa Soi’i’wa

Kec. Lolofitumoi

2 jam 28

Mei ‘05

Dr. Herry, dr. Yusup, sr. Yosefa, Boy*), Yanu 261

 

3. Desa Hiliwaebu

Kec. Lolomatua

3,5 jam 29-31

Mei ‘05

Dr. Riana, dr. Wimbo, Rm. Philip*), Sutikno, Yanu 540
4. Desa Muzoi

Kec Hiliduho

1 jam 2 Juni ‘05 Dr. Herry, sr. Damian, Rm Philip*), Fr. Herry, Sutikno, Marieta 350
5. Desa Dola

Kec. Hiliduho

1 jam 4 Juni ‘05 Dr. Herry, dr Willem, dr. Dian, dr. Indah, sr. Damian, Fr. Nathan*), Fr. Herry, Sutikno, Marieta, Meimon, Suyanus 238
6. Desa Hilidurua

Kec. Tuhemberua

2 jam 6 Juni ‘05 Dr. Herry, dr Willem, dr. Dian, dr. Indah, sr. Damian, Rm. Philip*), Fr. Herry, Sutikno, Marieta, Melda, Yanu 225
Desa Sawo

Kec. Tuhemberua

2 jam 7 Juni ‘05 dr Willem, dr. Dian, sr. Damian, Fr. Herry*), Sutikno, Marieta 253
7. Desa Fadorobalili

Kec. Hiliduho

1 jam 8 Juni ‘05 Dr. Herry, dr. Dian, dr. Indah, sr. Damian, Rm. Philip*), Fr. Herry, Sutikno, Marieta, Melda 391
8. Desa Hililaza

Kec. Lolomatua

3,5 jam 9-10

Juni ‘05

Dr. Herry, dr. Dian, dr. Indah, sr. Damian, Boy*), Sutikno, Marieta, Ina Harris 639

Catatan: *) sebagai supir
Waktu tempuh = waktu yang diperlukan untuk mencapai lokasi tujuan dari kota Gunung Sitoli

Penyakit2 di tiap desa berbeda2, namun jika dilihat secara keseluruhan dominasi penyakit kurang lebih sama, antara lain: ISPA, dermatitis, muskuloskeletal, cephalgia, gastritis, cacingan, dll. Di beberapa desa ditemukan kasus gondok dan TBC paru yang cukup menonjol.

Sampai saya kembali ke Semarang, kegiatan ini masih terus berlangsung sampai akhir Juni ini. Semoga Tuhan memberkati dan melindungi mereka.

Pengalaman Spesial

Dari semua daerah yang saya ikuti, yang paling berkesan adalah di dusun Afolahia, Desa Duria, Kecamatan Lolofitumoi. Hal ini dikarenakan medan perjalanannya yang begitu sulit. Kami berangkat dengan mobil pick-up dari Gunung Sitoli sampai desa Duria selama 3 jam. Kemudian dari sana kami harus jalan kaki sejauh 5 km dimana medannya membutuhkan perjuangan ekstra. Diperlukan waktu kurang lebih 3 jam untuk menempuh medan itu.

Kami harus menuruni gunung melewati bebatuan di jalan setapak. Cukup menguras tenaga karena harus mengerem dengan kaki. Kemudian kami menyeberangi sungai Moi yang cukup deras arusnya akibat turun hujan beberapa jam sebelumnya. Ketinggian air mencapai pinggang kami. Setelah melewati sungai, kami harus mendaki gunung dengan melewati hutan. Di sinilah medan yang tersulit. Tanahnya becek dan licin, bahkan berlumpur. Sementara itu waktu sudah menjelang malam. Saya terpaksa harus “alabu” (= jatuh) sebanyak 2 kali, dan terpeleset puluhan kali. Syukurlah, Tuhan masih memberi kekuatan dan perlindungan kepada kami.

Akhirnya kami tiba pukul 7 malam lebih dengan nafas yang ngos-ngosan dan badan yang basah kuyup karena keringat. Kami tidak sempat mandi, sementara pakaian kami sudah basah dan kotor sekali. Kami hanya berganti pakaian kemudian makan ala kadarnya, lalu tidur dengan pulas.

Oh ya, sewaktu di desa Duria kami meminta bantuan orang2 setempat guna membawa obat-obatan menuju dusun Afolahia. Mereka dengan mudahnya membawa barang di atas kepala sambil bergerak lincah ke sana kemari. Kami hanya bisa iri dan berdecak kagum kepada mereka. Luar biasa….

Keesokan paginya, kami baru melakukan pelayanan medis. Sebagian pasien yang rumahnya jauh masuk ke pedalaman, terpaksa harus jalan kaki begitu jauh hanya untuk mendapatkan pengobatan. Walaupun hanya sakit batuk pilek biasa saja, mereka rela menempuh jalan yang cukup jauh dan sulit. Hati kami sangat trenyuh melihat hal itu. Pelayanan berlangsung sampai pukul 15.00.

Kemudian kami segera berkemas2 dan pulang melalui jalan yang sama seperti waktu berangkat. Untunglah tanah yang becek kemarin sudah mulai kering. Namun tetap menguras tenaga dan keringat untuk mencapai kembali ke Desa Duria. Saya harus berhenti beberapa kali guna mengumpulkan tenaga sekaligus mengobati hipoksia, hipovolemia, dan hipoglikemi.  Sungguh melelahkan, mungkin karena saya bukan orang yang suka olahraga ataupun lintas alam. Bagi dr Wimbo yang suka lintas alam, keadaan ini tak menimbulkan masalah. Setelah tiba di desa Duria, kami lega bukan main. Rasanya ingin minum es degan, tapi kami tidak menemukannya. Nasib dah…

Setelah itu kami pulang ke Gunung Sitoli dengan mengendarai mobil Pick up. Leganya…. Puji Tuhan… Halleluya….

Pengalaman Spesial Bagian 2

Selama di Nias, sering muncul gempa2 susulan. Kebanyakan merupakan gempa kecil saja. Namun pada tgl 3 Juni, terjadi gempa cukup keras. Para relawan dan rohaniawan/wati yang berada di dalam pastoran, frateran dan susteran pada keluar semua. Sementara saya saat itu sedang enak2nya pub alias buang air besar. Sempat kebingungan juga, apalagi terdengar teriakan “Gempa.. gempa!!! Cepat keluar yang di dalam!” Namun setelah mengamati atap dan dinding kamar mandi yang baik2 saja, akhirnya saya putuskan untuk tetap meneruskan pub saya walaupun ternyata tidak mau keluar lagi fecesnya (takut kali ya…). Setelah selesai pub dan mandi sekalian, pastor Alfons yang sudah di luar kaget melihat saya. “Kok baru keluar?!” katanya. Beliau cerita gempanya cukup keras, bahkan televisi yang ada di dalam nyaris jatuh. Belakangan terdengar kabar gempanya mencapai 7,3 skala richter. Weekssss!!! Ternyata Tuhan masih melindungi saya. Puji Tuhan….

Kejadian itu membuat saya semakin waspada. Sampai akhirnya beberapa hari kemudian, saat saya mandi di tempat yang sama tiba2 terdengar suara berderak2 dari atap kamar mandi. Saya spontan mengambil handuk siap2 lari keluar, tapi kemudian saya baru menyadari kalo lantai tidak bergoyang. Akhirnya saya berdiam diri sambil merasakan keadaan sekitar. Tiba2 terdengar suara itu lagi dari atap kamar mandi. Ternyata hanya suara tikus yang berlari. KECELEK dah  saya….

Pergantian “Relawan”

Putu bersama 2 dokter yang selama ini ditempatkan di Mandrehe (dr Yudi dan dr Samuel) mengakhiri tugas mereka pada tanggal 28 Mei. Mereka kembali ke Medan lalu ke Jakarta. Sedangkan Dr Wimbo, dr Yusup, dr Riana dan dr Sinta menjadi relawan di Nias hanya selama 2 minggu. Mereka kembali ke Medan pada tanggal 1 Juni. Saya sempat merasa kesepian dan kehilangan mereka.

Tapi untunglah tidak lama kemudian ada dokter relawan pengganti, yaitu dr Dian, dr Indah dan dr Willem. Bersama mereka, kami melakukan kegiatan pelayanan di pedesaan. Dr Willem hanya sempat 2 kali ikut kegiatan ini, karena beliau dipindahkan guna membantu Posko pelayanan di Mandrehe.

Rekreasi

Tentu saja hal ini merupakan bagian yang penting walaupun kami datang sebagai relawan. Yah tentunya kami butuh refreshing sejenak setelah berkutat bekerja membantu para korban bencana. Biasanya kami selalu memanfaatkan hari Minggu ataupun hari besar lainnya untuk berekreasi. Saya selama sebulan berkesempatan berekreasi ke:

Pantai Simanere

Pantai ini terletak di sebelah timur P. Nias. Airnya memang tidak jernih, tetapi di sini kami beramai2 mandi dan main bola. Menyenangkan, sekalian melepas stress

Museum Pusaka Nias

Museum ini masih terletak dalam kota Gunung Sitoli. Kompleks museum ini merupakan milik Keuskupan Agung Sibolga, hebat kan… Di sini kita bisa melihat barang2 bersejarah khas Nias, mulai dari replika rumah adat, senjata, peti mayat, pakaian zaman dahulu, peralatan dapur, patung2, dll. Pokoknya membuat kita berdecak kagum. Selain itu juga terdapat semacam kebun binatang mini, yang berisi hewan2 khas Nias. Ditambah lagi kita bisa menikmati pantai yang indah karena museum ini terletak di tepi pantai. Kita bisa mandi di sini, airnya jernih sekali.

Saya pernah ke tempat ini malam hari, tentunya beramai2. Saat itu kami bersama beberapa pastor dan suster serta relawan dari beberapa LSM berkumpul untuk merayakan perpisahan dengan Romo Pur yang akan kembali ke Sumatera. Jangan kaget kalo melihat Romo ataupun suster minum bir. Mereka bisa menghabiskan 1 botol sendirian lho walaupun bir bintang kadar alkoholnya rendah.

Pantai Indah di Tuhemberua

Pantai ini terletak di sebelah utara Nias. Airnya cukup jernih. Kami rombongan (dokter, perawat, frater dan suster) berenang di pantai ini jam 12 siang. Alhasil muka dan badan saya terbakar dah….

Pulangnya kami menikmati kelapa muda. Uenak puol dah…

Teluk Dalam, Pantai Sorake, Bawomataluo

Berbeda dengan Tuhemberua, ketiga tempat ini terletak di ujung selatan Nias. Teluk Dalam merupakan kota yang cukup besar (menurut ukuran Nias). Di sini kami berkunjung ke Susteran SCMM Stella Maris (Bintang Laut). Bangunan ini berada di atas bukit, di depannya ada patung Tuhan Yesus yang besar (mungkin tingginya mencapai 10 meter). Di sinilah dr Sinta bertugas melakukan pelayanan.

Pantai Sorake merupakan pantai yang sangat terkenal di dunia, khusunya bagi atlet maupun penggemar selancar air. Pantainya indah dengan ombak yang besar, sangat ideal untuk bermain selancar air. Namun sayang karena gempa, pantai menjadi terangkat naik sehingga ombaknya tidak sebesar dahulu lagi. Walaupun demikian ombaknya masih cukup besar. Sayang saya tidak sempat mencoba selancar air, tidak ada yang menyewakan.

Bawomataluo yang artinya bukit matahari (bawo = bukit; mataluo = matahari), merupakan salah satu objek wisata di Nias. Tempat ini berada di atas bukit. Di sini kita bisa melihat2 rumah2 adat Nias (khususnya Nias Selatan), juga atraksi khas Nias yaitu Lompat Batu. Ada satu rumah adat yang paling besar, yang dahulu merupakan kediaman bangsawan. Tiang penyangga rumah ini luar biasa besarnya, keliling tiangnya tidak bisa dijangkau dengan pelukan tangan kita. Di dalamnya ada ukir2an, gendang besar, perabotan khas Nias, dan senjata beserta tamengnya. Juga terdapat deretan puluhan rahang babi yang menunjukkan betapa perkasanya pemilik rumah itu. Luar biasa…

3. Kepulangan

Akhirnya tiba juga tanggal yang ditunggu-tunggu, tgl 14 Juni ’05. Walaupun senang berada di sana, tapi kerinduan untuk pulang ke rumah semakin memuncak. Saya kembali ke Jakarta bersama perawat Sutikno dan Hendro. Mula2 kembali ke Medan dulu dengan pesawat Merpati (1 jam doang). Lalu menginap sehari di wisma katedral Medan. Kesempatan ini kami gunakan untuk membeli oleh2 untuk keluarga. Keesokan harinya terbang ke Jakarta dengan Batavia Airlines. Menginap semalam juga. Tgl 16 pagi kami menceritakan pengalaman sekaligus laporan kami selama di Nias. Setelah itu saya kembali ke Semarang dengan pesawat Batavia lagi. HOME SWEET HOME….

Oh ya sebelum pulang, kami sempat berpesta durian Nias. Saat itu mulai panen durian. Murah2 lho…. 1 buah saja (bukan 1 biji) cuma Rp 2500; apalagi ntar kalo puncak panen, cuma 1000 perak sebuah. Uenak-uenak lagi rasanya, dagingnya cukup tebal gitu loh.

Special Thanks to :

  • PERDHAKI (dr Felix dan Bu Irene) yang telah memberi saya kesempatan untuk berkarya di Nias.
  • Sr Margareta, yang telah memimpin para relawan. Dan juga atas kelembutan hatinya yang mau turun tangan sendiri membantu menangani para korban dengan kasus2 spesial. Mereka ada yang ditangani sendiri, dicarikan solusi pengobatan maupun dirujuk ke Medan.
  • Teman2 relawan yang lain, yang telah bekerja bersama dalam suka maupun duka.
  • Rohaniawan/wati yang telah memberi kami tumpangan tempat tinggal dan makanan yang lezat2, terutama daging babinya.
  • Ina Harris dan keluarga atas kesediaannya meminjamkan mesin cuci saat saya malas mencuci.
  • Marieta, Yanu, Pieter, dan Boy yang membantu pelaksanaan pelayanan medis.
  • Dr Cissy Cecilia dan teman2 di Surabaya, yang telah memberi support kepada saya.
  • Keluarga dan pacarku di Semarang yang mendukungku selama di Nias.