KONGRES NASIONAL PERKASIH XII

APAPUN JUGA YANG KAMU PERBUAT, PERBUATLAH DENGAN SEGENAP HATIMU SEPERTI UNTUK TUHAN DAN BUKAN UNTUK MANUSIA ( Kolose 3:23 )

 

PERKASIH telah selesai mengadakan Kongres Nasional di Prigen – Pasuruan Jawa Timur. Tepatnya di Graha Samadi Vincensius ( GSV ) pada tanggal 20-22 Januari 2017.

Acara dimulai dengan Misa Pembukaan yang dipimpin oleh Romo Rudi. Dan setelah itu dilanjutkan dengan konferensi pertama di hari Jumat Malam tanggal 20 Januari 2017. Yang dimana pada sesi ini membahas St.Vincentius yang merupakan tokoh dan pelindung Perkasih itu sendiri. Dalam paparan yang disampaikan oleh Romo Rudi ini sangat membantu para peserta untuk lebih mengenal dan dapat mengamalkan apa yang telah dimulai oleh St.Vincentius. Dan lebih dari itu Romo Rudi lebih menekan lagi bahwa orang atau kita perlu melakukan pertobatan untuk bisa mencapai hasil yang maksimal dalam pelayanan.

Pada Konferensi sesi kedua mengangkat tentang tantangan di masa mendatang, yang dimana dipengaruhi populasi manusia dan kemajuan teknologi. Dan Paparan tentang hal ini dibawakan oleh Bapak Doni. Dalam hal ini betapa kita diingatkan untuk lebih siap menghadapi tantangan dalam era teknologi yang makin maju.

Dalam Kongres Perkasih ke XII di Prigen ini pada kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Perkasih sebagai motor penggerak untuk menjangkau yang tak terjangkau harus terus mengalami perubahan dan perkembangan, yang dimana Perkasih dari masing-masing Regio dituntut bisa mandiri dikemudian hari. Modeling untuk pengembangan Perkasih sangat jelas dipaparkan oleh Bapak Doni, dan hal ini tinggal dari masing-masing Regio Perkasih bagaimana mengimplementasikannya di lapangan. Pada prinsipnya revolusi mental sangat ditekankan dalam Kongres Nasional Perkasih ini, yang dimana SDM dari anggota Perkasih harus lebih dulu dibangun sehingga dapat mengalirkan skil dan kemampuan bagi sesama anggota maupun terutama untuk klien atau pasien yang siap ditangani. Singkat kata pelayanan bagi mereka yang membutuhkan harus benar-benar hidup dan menghidupi secara berkesinambungan kapanpun dan dimanapun mereka berada, sehingga berkat itu terus mengalir dan tidak berhenti.

Peran Bhakti Luhur sangat penting untuk kemandirian anak-anak yang dibina, sehingga saat mereka keluar dari Bhakti Luhur telah memiliki semangat dan revolusi mental yang bagus.

Itulah mengapa pembahasan mengenai Bhakti Luhur dulu, sekarang dan akan datang dibahas secara lebih mendalam dan atraktif oleh bapak Doni, karena pentingnya hal ini dalam menyongsong era teknologi dikemudian hari. Berbagai macam modeling dipaparkan secara menarik sehingga memudahkan untuk dipahami dan terlebih dari itu dapat diimplementasikan demi kebelangsungan Bhakti Luhur dalam menghadapi era modern.

Sebagai penutup Kongres, para peserta diajak untuk lebih kreatif dalam menuangkan ide-ide cemerlang demi pengembangan Bhakti Luhur dan Perkasih. Dan hal ini mendapat antusias dari para peserta. Hal ini terlihat saat peserta memaparkan ide dari masing-masing regio yang dimana para peserta mampu menjawab tantangan untuk membuat ide kreatif demi pengembangan Perkasih dimasa mendatang.

Selanjutnya Kongres ditutup dengan misa yang dipimpin oleh tiga Romo yang juga bagian dari Perkasih. Acara Kongres berlangsung dengan lancar dan meriah. Dan Pada akhirnya para peserta juga dapat kembali ketempat masing-masing dengan penuh suka cita.

MENJANGKAU YANG TAK TERJANGKAU